Scroll untuk baca artikel
Example floating
Example floating
Berita

Mahasiswa Sastra Indonesia Unesa Kuliah Tamu bersama Balai Pustaka

Mendunia Press
30
×

Mahasiswa Sastra Indonesia Unesa Kuliah Tamu bersama Balai Pustaka

Share this article

UNESA – Prodi S-1 Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS), Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan kuliah tamu bertajuk “Balai Pustaka: Warisan Sastra, Dulu, Kini, dan Esok Hari” secara daring pada Senin, 29 September 2025.

Kuliah tamu tersebut menghadirkan Achmad Fachrodji, Direktur Utama PT Balai Pustaka sebagai narasumber. Di hadapan 300-an mahasiswa, Achmad Fachrodji menyampaikan perjalanan panjang Balai Pustaka sebagai penerbit legendaris di Indonesia.

Example 300x600

Melalui materi bertajuk, “108 Tahun Balai Pustaka: Dulu, Kini, dan Masa Depan”, Fachrodji memaparkan kilas balik sejarah Balai Pustaka yang mulanya dibentuk Pemerintah Hindia Belanda sebagai Commissie voor de Volkslectuur dengan ketua pertamanya G.A.J. Hazeu pada 14 September 1908.

Lembaga ini, lanjutnya, pada awalnya berfungsi mengontrol peredaran bacaan dan membendung pengaruh “bacaan liar” di masyarakat, sekaligus bertugas menerbitkan bacaan berupa buku pelajaran, keterampilan, pertanian, hingga ilmu alam.

Barulah pada 22 September 1917, lembaga tersebut bertransformasi menjadi Kantoor voor de Volkslectuuratau yang dikenal dengan nama Balai Pustaka. Sejak saat itu, Balai Pustaka menerapkan penyeragaman bahasa Melayu tinggi dalam setiap terbitannya, yang kemudian menjadi fondasi lahirnya bahasa Indonesia modern.

Berikutnya, pada 1920 menjadi tonggak penting dengan terbitnya novel Azab dan Sengsara karya Merari Siregar yang menandai lahirnya sastra modern Indonesia, sekaligus melahirkan Angkatan Balai Pustaka dengan sastrawan-sastrawan besar seperti Merari Siregar, Marah Rusli dengan Sitti Nurbaya, Sutan Takdir Alisjahbana, Nur Sutan Iskandar, hingga Muhammad Yamin.

Dalam pemaparannya, Fachrodji juga menyinggung karya-karya klasik Balai Pustaka yang melegenda, mulai dari Azab dan Sengsara (1920), Sitti Nurbaya (1922), hingga Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck (1939).

“Balai Pustaka kini memiliki lebih dari 6.000 hak cipta buku, meliputi novel klasik, cerita rakyat, seri pahlawan, karya terjemahan, hingga literatur pendidikan.” paparnya.

Sejak era kolonial, lembaga ini bahkan mendirikan ribuan Taman Bacaan Rakyat di seluruh Indonesia. Namun, Fachrodji menekankan bahwa tantangan besar masih dihadapi, mulai dari ketiadaan penugasan langsung pemerintah, rendahnya minat baca, hingga berkurangnya porsi pelajaran sastra di sekolah.

Oleh karena itu, ia menegaskan pentingnya stimulus bagi penulis muda yang kerap belum memahami proses penerbitan dan pemasaran karya. Melalui kolaborasi dengan perguruan tinggi seperti Unesa, Balai Pustaka diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran sekaligus penggerak bagi generasi muda untuk menghidupkan budaya literasi di era digital.

Mohammad Rokib menyampaikan bahwa kegiatan ini diinisiasi dari diskusi kelas terkait digitalisasi karya sastra terbitan Balai Pustaka. Dosen pengampu mata kuliah Sastra Digital itu mengatakan bahwa sejarah sastra Indonesia pada mulanya bertumpu pada Balai Pustaka, sehingga pengalaman dan pengetahuan dari lembaga ini menjadi penting untuk diserap mahasiswa. “Harapannya, kerja sama konkret dengan Balai Pustaka dapat terjalin di masa depan,” ungkapnya.

 

Koordinator Prodi S-1 Sastra Indonesia, Parmin menambahkan bahwa forum ini menjadi kesempatan berharga untuk mengaitkan sejarah sastra Indonesia dengan Balai Pustaka secara langsung melalui informasi dari Direktur Balai Pustaka. “Kami berharap bisa memperkuat pemahaman mahasiswa tentang jejak perkembangan sastra Indonesia sekaligus memperkaya wawasan akademik mereka,” ujarnya.

Sementara itu, Dekan Fakultas Bahasa dan Seni Unesa, Syafi’ul Anam memberikan apresiasi atas inisiatif dan kerja keras panitia penyelenggara. Menurutnya, kegiatan ini bukan hanya upaya menelusuri sejarah panjang sastra klasik, tetapi juga menjadi jembatan penting melalui pendekatan sastra digital.

“Kami berharap program ini mampu memantik mahasiswa untuk memperoleh insight strategis mengenai perkembangan sastra digital dan mendorong mereka agar lebih produktif serta inovatif dalam berkarya,” tandas Dekan. @tr/sir

Example 300250
Example 120x600

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *